Potensi pasar di Indonesia untuk produk-produk permainan kreatif ternyata didominasi oleh produsen game luar negeri. Terhitung 80 persen game online adalah produk buatan luar negeri. Dengan jumlah penduduk 200 juta lebih, Indonesia menjadi wilayah paling penting untuk melakukan penetrasi terhadap produk-produk asing.
Lolly Amalia, Direktur Sistem Informasi, Perangkat Lunak dan Konten Departemen Komunikasi dan Informasi (Depkominfo) mengatakan, hingga saat ini jumlah WARNET yang tersebar di seluruh Indonesia mencapai 5 juta warnet dengan rata-rata tiap warnet memiliki 10 komputer. “Sementara pengguna game online rata-rata 6 orang per warnet, maka setidaknya ada 30 juta orang Indonesia yang berselancar di dunia maya ungkapnya.
Atau dengan kata lain, 1 dari 8 orang Indonesia adalah pemain game online. Dengan kondisi pasar seperti itu, Indonesia menjadi pasar yang cukup potensial untuk industri permainan interaktif.
Industri permainan interaktif sendiri, berdasarkan cetak biru pengembangan ekonomi kreatif Indonesia mempunyai pengertian sebagai kegiatan kreatif yang berkaitan dengan kreasi, produksi, dan distribusi permainan pada media komputer, video, konsol, telepon genggam, dan jaringan internet, yang bersifat hiburan, ketangkasan, dan edukasi.
Sedangkan kriteria untuk menentukan sebuah permainan disebut permainan interaktif adalah permainan yang menggunakan aplikasi piranti lunak pada Komputer (online maupun stand alone), konsol (Playstation, XBOX, Nitendo dll), Telepon genggam, maupun alat ketangkasan lainnya.
Namun, kondisi pasar yang liquid tersebut ternyata tidak dirasakan oleh produsen permainan interaktif di level domestik. Penetrasi produk asing membuat produsen dalam negeri seakan hanya menjadi penonton di negeri sendiri. Sebagai contoh, Lolly menceritakan bahwa Universitas Bina Nusantara (Binus) pernah membuat film animasi sebanyak 52 seri. Ketika ditawarkan ke semua stasiun televisi di Indonesia, film tersebut tidak ada yang mau membeli. “Akhirnya, mereka (Binus, -red), menjualnya ke Korea, dan laku. Ternyata, sekarang film itu dialih bahasakan ke bahasa Indonesia karena ada stasiun TV yang mau membelinya dengan harga yang jauh lebih mahal,” tuturnya.
Kenyataan ini dirasakan oleh Lolly sebagai suatu hal yang ironis. “Masyarakat kita sepertinya lebih senang membeli produk luar negeri, padahal produk tersebut sebenarnya karya lokal,” keluhnya. Senada dengan Lolly, Ketua Asosiasi Penggiat Mainan Edukatif dan Tradisional Indonesia (APMETI) Dhanang Sasongko mengungkapkan kekhawatiran yang sama. “Jika kondisi ini dibiarkan, maka pada 2010 nanti, Indonesia hanya akan jadi penonton,” ungkapnya.
Potensi industri dari permainan interaktif, seperti diungkapkan oleh Lolly, masih terbuka sangat lebar, tidak hanya di Indonesia, namun di negara-negara maju. Lolly mencontohkan, di Amerika Serikat, penjualan game online Grand Theft Auto (GTA) mampu membukukan keuntungan hingga 4,6 triliun rupiah hanya dalam tempo seminggu. Angka tersebut mengalahkan pendapatan penjualan tiket bioskop dari film Transformer yang hanya berhasil membukukan keuntungan sebesar 1,4 triliun rupiah.
Senada dengan Lolly, Dhanang mengungkapkan bahwa segmen terbesar dari permainan interaktif adalah anak-anak dan remaja. “Segmen ini berada dalam jumlah yang terbesar dalam populasi orang Indonesia, dan segmen ini mempunyai karakter yang bisa berubah, dan menyukai hal-hal yang baru,” ujar pria yang juga aktif di Yayasan Sumbangsih Untuk Negeri. “Tapi, ancaman terbesar kita adalah dari luar negeri,” imbuhnya seraya mengatakan bahwa anak-anak sekarang lebih hafal tokoh- tokoh dalam komik Naruto, dan tidak mengerti siapa Pandawa, atau Gatotkaca.
Berkaitan dengan Sumber Daya Manusia (SDM), Lolly mengungkapkan bahwa jumlah pengembang atau developer game di Indonesia baru sebesar 20 developer dengan SDM sekitar 114 orang. Kurangnya SDM ini dijawab oleh Beng Rahardian dari Akademi Samali Jakarta, sebuah akademi seni berbasis gambar dan komik, dengan mengatakan bahwa minimnya SDM tidak menunjukkan bahwa orang Indonesia tidak mampu bikin game. “Banyak orang Indonesia yang karyanya dibeli oleh produsen dari luar negeri, bahkan banyak juga yang bekerja di luar negeri,” ujarnya.
Dhanang menambahkan, industri permainan kreatif juga tidak mendapat dukungan yang signifikan dari dunia bisnis, khususnya dari segi pembiayaan dan distribusi. Banyak lembaga perbankan yang tidak mau mengucurkan kredit kepada perusahaan-perusahaan pembuat game. “Selain itu, para produsen game juga seringkali tidak tahu produknya harus dijual kemana di dalam negeri, karena tidak ada distributor yang mau mendistribusikan,” imbuhnya.
Selain kedua problem tersebut, industri permainan interaktif masih harus menghadapi tembok besar pembajakan yang membuat Indonesia menempati peringkat ke-12 negara pembajak terbesar di dunia. Untuk itu, Dhanang mendesak pemerintah untuk melakukan proteksi terhadap hasil karya pengembang game di Indonesia dengan kebijakan yang mendukung penciptaan iklim bisnis yang lebih sehat. Serta perlu dibentuk sebuah wadah untuk mengembangkan permainan interaktif menjadi sebuah industri yang mampu memberi kontribusi terhadap ekonomi kreatif Indonesia. “Wadah tersebut berisikan orang-orang dari kalangan industri, pengembang game, pemerintah dari lintas departemen, akademisi, dan juga komunitas pengguna, sehingga dapat terintegrasi dengan baik,” ujar Dhanang.
Yunus
Wartawan
Msyani ( Editor summary ) wikimu.com

























musik pop band. Maklumlah, Ridho yang menjadi ikon juga merupakan sosok muda menarik dengan karakter yang kuat. Warna musik yang khas dibekali lagu-lagu yang sudah akrab di telinga masyarakat memang menjadikan optimisme besar bisa meraih respons kuat.
The Mercys dan lain-lain. Kenyataannya, Soneta terus ke puncak popularitas yang melegenda hingga saat ini. Sonet 2 Band kini dikelilingi grup-grup kuat seperti Slank, Dewa, Peterpan, D’Massiv maupun lainnya. “Insya Allah Ridho dan grupnya akan bisa bersaing,” harap Rhoma.
citra baik itu ke dunia internasional,” harap Ridho dalam acara peluncuran album perdana Sonet 2 Band, yang berjudul Menunggu, di Planet Hollywood Jakarta















